Lulus

Januari 2014

Retret sepertinya menjadi pertapaan terakhir kami sebelum memulai serangkaian ujian yang notabene adalah kunci untuk membuka pintu kelulusan. Alih-alih merenung dan berdoa, 2 malam yang saya habiskan disitu saya pakai untuk bermain. Namanya boleh “Retret”. Tapi begitu saya tahu di salah satu kamar anak laki-laki semuanya sedang pegang kartu gaple, saya langsung ke sana bersama beberapa teman saya. Permainan kali ini, entah mengapa, terasa hambar dan saya hampir tertidur. Maka saya dan beberapa teman ngungsi ke kamar Diella. Suasananya hening sehingga kami terpancing untuk bercerita melepas beban hati. Diella menceritakan pengalamannya menjadi katekumen. Sungguh pengalaman spiritual yang menarik. Sedangkan cerita apa yang saya bagikan kepada mereka? “Lis ceritain dong kok lu dapet cowo gampang bener.” Ini bukan narsis, tapi ada baiknya saya ceritakan pertanyaan mereka biar Anda saja yang menebak cerita ngga penting apa yang akhirnya mereka dengar. Dengan sedikit gaya Mario Teguh untuk meyakinkan mereka “Lo juga pasti dapet pacar kok.” Baaaaahhhhh..

Malam berikutnya saya habiskan di kamar Anas dan Tika. Teman-teman saya yang “anti low-bat.” Bukan, saya bilang begitu bukan karena mereka itu gadget freak. Keceriaan merekalah yang anti low-bat, alias tidak ada habisnya. Bersama mereka pasti selalu ramai, selalu curhat, selalu mudah melontarkan kata kasar. Cerita tidak penting pun bisa mendapat respon “Anjiiingg..” Namanya juga anak muda, teman dekat pula.

Februari 2014

Serangkaian ujian dimulai, setelah ulangan umum, kami menghadapi ujian praktek. Paling berkesan adalah ujian Mandarin. Selama 2 tahun mengerjakan ulangan Mandarin, pasti saya selalu nyontek, saya tidak akan membantah. Dan adanya ujian praktek ini memaksa saya menghafal dialog mandarin dan tulisan keritingnya yang mirip-mirip. Tapi Tuhan memang baik. Saya berpasangan dengan Nicole yang sangat pintar pelajaran ini. Dia membantu saya menghafal teks, membuat dialog dan menghafalkannya. Nicole yang saya kenal sejak SMP (dan baru dekat semenjak kelas 12 SMK ini) anaknya memang pintar, jadi dia membantu saya belajar hampir di setiap mata pelajaran.. Tidak pernah pelit ilmu.

Ujian Mandarin pun dilangsungkan. Saya memang merasa kurang lancar, entahlah mungkin tanpa Nicole saya hanya akan berdiri mematung sampai busuk di depan laoshi-laoshi yang menyeramkan itu.

Maret 2014

Ujian sekolah dilaksanakan. Hampir semua pelajaran saya pakai sistem kebut semalam, ada yang kebut sepagi, ada yang kebut 15-menit-sebelum-ujian. Hasilnya memang memprihatinkan bahkan nilai ujian sekoalah Matematika saya akhirnya menjatuhkan rata-rata nilai ujian nasional. Terimakasih Bu Natalia telah membuat saya hilang kepercayaan terhadap sistem katrol nilai.

April 2014

Ujian nasional. Otak saya sudah cukup digenjot untuk belajar, sehingga semalam sebelum ujian saya main atau nonton TV. Usai ujian saya hampir selalu nongkrong di Ministop bersama teman-teman. Otak tidak boleh diforsir! Itu bukan alasan belaka, karena berkat tidak belajar saya mendapat nilai Bahasa Indonesia 9.00, Bahasa Inggris 9.20, Matematika 9.75, dan Teori Kejuruan 8.60. Sungguh ini bukan menyombongkan diri, hanya ingin memberi bukti bahwa tidak belajar justru membuat nilaimu meningkat.

Mei 2014

Hari-hari saya didominasi oleh kegiatan belajar di BTA. Selebihnya diisi dengan latihan graduasi dan rapat yearbook. Chat Line berisi chat saya dengan Epo dan Obe membahas design yearbook.

Semua lewat begitu saja sampai tiba hari kelulusan. Euphoria tidak saya rasakan karena kondisi fisik saya sempat drop dan beberapa hari sebelumnya saya luangkan di rumah sakit. Di saat yang lain menyiapkan gaun terbaiknya, saya duduk di kursi pasien untuk ambil darah. Tapi terimakasih Tuhan, saya tetap bisa ikut acara graduasi walaupun tubuh saya dihiasi bintik-bintik merah akibat virus.

Selama separuh acara, saya duduk di sebelah Tika. Selebihnya saya duduk di antara mama dan papa.

Malamnya adalah acara prom night. Terusan merah muda yang telah saya siapkan saya ganti dengan blus brokat lengan panjang dan celana legging untuk menutupi tubuh saya yang merah-merah. Teman-teman saya tidak berhenti menanyakan “Lu udah sehat? Udah baikan?” Jika perut saya adalah halaman web maka saya akan membuat kolom FAQ dan meletakkan pertanyaan tersebut disitu. Tapi di lubuk hati terdalam saya terhanyut dengan perhatian mereka walau hanya sekedar simpati sederhana.

 

Pesta telah usai. Hari-hari saya kembali sepi, hampa sekali. Biasanya pulang sekolah pasti ke Ministop. Membeli makanan ringan lima ribu rupiah lalu ambil onion sauce sebanyak-banyaknya. Itulah pesta kecil kami setiap siang. Biasanya ada Anas, Tika, Sheryl, dan Graine. Kadang-kadang ada Ester, Sasa, dan Devi. Kalau dalam sosiologi mereka disebut peer group saya. Canda tawa mereka begitu berharga dan perhatian mereka begitu indah.

Sekarang waktunya bagi kita menempuh masa depan masing-masing. Rasa rindunya baru terasa sekarang… Saya akan rindu masa-masa SMK, dan juga kalian, sahabat-sahabat saya. Kita lulus bersama-sama, kita juga akan sukses bersama-sama. Sampai jumpa!Graduation SMK Santa Theresia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s