Kisah Inspiratif : Keterbatasan Fisik Tidak Membatasi Deky Babys Menyelesaikan S1

Catatan: Ini adalah tulisan pertama gue yang beneran tulisan. Ditulis untuk keperluan publikasi di media oleh CMC Binus (semoga ada media yang berkenan mempublikasikan ya).  Terima kasih untuk Kak Maria Christie yang sudah mewawancarai Ibu Nunci dan sudah mengedit tulisan ini.

***

Selasa, 25 Juli 2016 lalu Jalan Asia Afrika dipadati oleh kendaraan seperti biasa. Yang istimewa dari hari itu adalah, sebagian dari orang-orang yang memadati jalan tersebut adalah mereka yang hari itu akan memulai babak baru dalam hidupnya, dengan gelar baru di belakang namanya.

Hari itu di Plenary Hall Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Wisuda ke-54 BINUS UNIVERSITY diselenggarakan. Para wisudawan dan wisudawati telah memadati tempat tersebut sejak pagi hari. Senyuman lebar menghiasi wajah mereka. Deky Babys, BINUSIAN 2016, seharusnya menjadi salah satunya, namun Yang Maha Kuasa telah memanggilnya sebelum momen bahagia tersebut.

Masa Kecil Deky Babys dan Awal Penyakit Kankernya

Deky yang lahir pada tanggal 9 September 1990 ini merupakan bungsu dari 7 bersaudara. Orang tuanya telah tiada sejak Deky masih balita. Pada usia 12 tahun, Deky  dinyatakan mengidap kanker hidung. Kemoterapi dijalankannya demi memperoleh kesembuhan.

Pada usia 13 tahun, Deky dinyatakan sembuh dari kanker hidungnya. Namun radiasi dari kemoterapi yang dijalankan selama 1 tahun terakhir menyebabkan Deky kehilangan penglihatan pada salah satu matanya. Tidak hanya itu, sebagian wajahnya juga menjadi lumpuh. Dokter mengatakan, usia Deky tidak akan lebih dari 10 tahun lagi.

Semangat Deky tidak padam karena keterbatasan fisik yang dimilikinya. Setelah menamatkan sekolah dasar di Kupang, Deky melanjutkan SMPnya di Bekasi. Kemudian ia masuk ke SMK Sandikta, Bekasi dengan jurusan Teknik Komputer dan Jaringan.

Dengan Keterbatasan Fisik dan Biaya, Deky Tetap Bertekad Untuk Kuliah

Rupanya komputer memang menjadi passion Deky. Deky melanjutkan kuliahnya di BINUS UNIVERSITY jurusan Teknik Informatika dengan peminatan Database Technology. Deky memiliki harapan, yaitu, ketika kuliahnya telah tamat ia dapat menggerakkan perekonomian di tempat kelahirannya yaitu Kupang.

Awalnya, keinginan Deky untuk berkuliah di BINUS UNIVERSITY ditentang oleh Nunci, kakak Deky yang juga membiayai pendidikan Deky selama ini. Alasannya biaya perkuliahan pasti sangat besar sementara Nunci hanya mendapat pemasukan yang sangat kecil dari pelayanan gereja dan suaminya juga merupakan petugas security. Namun Deky berjanji akan berkuliah dengan baik.

Selain berkuliah, Deky mempunyai pekerjaan sampingan sebagai staff di sebuah yayasan yang bergerak di bidang kemanusiaan. Yayasan tersebut bekerja sama dengan gereja dalam membantu anak-anak kurang mampu untuk mendapatkan hidup yang lebih layak. Deky menikmati pekerjaannya karena ia merasa bahagia dapat membantu orang lain.

Skripsi dan Hari-hari Terakhir Deky

Menjelang semester akhir, Deky mulai tinggal di rumah kost karena harus menjalani program magang di Polytron. Selanjutnya Deky mengerjakan skripsinya. Ia mengerjakan skripsi tiada henti, hingga perlahan-lahan kesehatannya menurun dan ia pun jatuh sakit karena kelelahan. Namun Deky adalah orang yang penuh semangat. Meskipun dalam keadaan sakit, ia tetap menyelesaikan skripsinya hingga sidang.

Seusai sidang, ia kembali tinggal di rumahnya. Hari-hari Deky diisi dengan beristirahat. Setelah 40 hari terbaring lemah di rumahnya, Deky pun menghembuskan nafas terakhirnya. Tubuh Deky dikebumikan di Pondok Rangon pada tanggal 10 Mei 2016.

Kakak Deky Menghadiri Wisuda Untuk Mengambil Berkas Kelulusan

Selasa, 25 Juli 2016 seharusnya Deky menjadi bagian dari ribuan wisudawan dan wisudawati yang memadati JCC. Pada waktu nama wisudawan dan wisudawati dipanggil satu persatu, nama Deky Babys dipanggil sebagai yang pertama. Orang tua dari Deky dimohon maju ke panggung untuk mengambil berkas kelulusan Deky. Nunci maju sebagai perwakilan, bersama dengan suaminya.

Rektor BINUS UNIVERSITY, Prof. Dr. Ir Harjanto Prabowo, MM mengungkapkan belasungkawa sebesar-besarnya, kemudian menyerahkan berkas kelulusan Deky kepada Nunci dan suaminya.

Nilai Deky terbilang tinggi. Nilai A membanjiri transkrip akademiknya. Ia lulus dengan IPK 3,32.

Begitulah perjalanan Deky. Meskipun ia telah tiada, ia tetap membuat keluarganya bangga dengan prestasi dan semangat yang dimilikinya. Selamat jalan Deky Babys, semangatmu akan tetap hidup di dalam hati kami.  (MFJ)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s